Rabu, 13 Mei 2009

MBS dalam Penerapan Kurikulum 2004

JC Tukiman Taruna


PERGANTIAN tahun ajaran 2003/2004 ke 2004/2005 serta-merta membuat akrab kosakata phasing in-phasing out, terutama di kalangan Departemen Pendidikan Nasional atau dinas pendidikan, mengingat penahapan implementasi Kurikulum 2004 (yang di banyak tempat tetap saja disebut kurikulum berbasis kompetensi) secara pasti dilaksanakan.

Di Jawa Tengah, misalnya, phasing in-phasing out akan berlangsung tiga tahun; misalnya tahun ajaran (TA) 2004/2005 kelas I sudah melaksanakan Kurikulum 2004, sedangkan kelas II dan kelas III belum. Selanjutnya, pada TA 2005/2006 nanti kelas I meneruskannya, kelas II mulai menerapkan Kurikulum 2004, sedangkan kelas III belum; namun pada TA 2006/2007 kelas III mulai menerapkannya, sedangkan kelas I dan II meneruskan penerapannya. Begitu seterusnya sehingga pada TA 2008/2009 semua kelas dan sekolah sudah menerapkan Kurikulum 2004. Penerapan secara bertahap seperti itulah yang disebut phasing in-phasing out.

Dua hal

Apa yang membedakan Kurikulum 2004 dari Kurikulum 1994? Pertanyaan itu selalu muncul di berbagai fora, dan secara sederhana saya selalu menyebutkan dua hal yang membedakan, pada (a) metode pembelajaran, dan (b) penilaian/evaluasi. Metode pembelajaran, yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2004, amat besar perhatiannya pada proses yang PAKEM (pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) sehingga dengan cara seperti itu guru mengetahui kompetensi siswa. Sementara penilaian/evaluasi amat kuat perhatiannya pada proses, bukan hasil akhir, dan model penilaian proses ini sangat dikenal dengan penilaian portofolio.

PAKEM selama ini telah dikembangkan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), terutama MBS yang sejak tahun 1999 dikerjakan UNESCO-UNICEF bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional. Artinya, akselerasi Kurikulum 2004 mulai TA 2004/2005 sedikit banyak telah diantisipasi dengan lebih siap oleh ribuan sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiah (MI), yang selama ini telah menjadi rintisan pelaksanaan MBS di sembilan provinsi dan meliputi lebih dari 40 kabupaten/kota. Perkembangan penerapan PAKEM di sekolah-sekolah itu, antara lain, terbukti lewat kian menariknya kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah. Sebelum penerapan MBS, KKG tidak menarik minat guru datang karena hampir selalu diisi segala macam ceramah atau pengarahan; sedangkan kini KKG banyak dimanfaatkan guru-guru untuk menyusun bahan ajar (BA). Konkretnya, kini setiap kali KKG, guru-guru kelas I berkumpul dengan sesama guru kelas I, demikian juga guru-guru kelas III, kelas IV, dan seterusnya berkumpul dengan sesamanya untuk menyusun BA setiap subtema/subpokok bahasan. Penyusunan BA seperti itu amat membantu guru dan mereka tidak perlu lagi membuat persiapan mengajar seperti dulu, dan dengan BA guru kian didorong untuk menjalani proses pembelajaran penuh dengan penerapan PAKEM.

Tentang penilaian portofolio, kita perlu menyimak penjelasan Margaret Forster & Geoff Masters (1996, Portfolios Assessment Resource Kit) berikut. Disebutkan, "portfolios are collection of artifacts of students’ learning experiences assembled over time." Maksudnya, penilaian portofolio amat menekankan pada proses perkembangan anak. Kalau bulan pertama semester satu anak kelas II SD Negeri Kalibendu sudah mampu menghasilkan tulisan/kalimat terdiri dari tiga sampai lima kata, berikutnya dalam bulan kedua sudah bertambah menjadi enam kata, dan memasuki bulan ketiga sudah bertambah lagi menjadi tujuh kata; hasil dari proses itulah artifacts anak-anak. Artinya, guru (dan orangtua tentu saja) selama bulan-bulan awal semester sudah mampu mengetahui tingkat kemajuan anak secara individual, dan hasil proses itulah yang memberi gambaran proses bagi Tanoto ataupun Erlyn dan siswa lain perihal kemajuan masing-masing.

Contoh "artifacfs"

Contoh berikut terjadi di kelas I sebuah SD rintisan MBS di Wonosobo (Jawa Tengah) pada saat dilakukan kegiatan "guru magang" di sekolah itu. Hasil siswa bernama Heri diberi nilai 80 oleh ibu guru dan tulisan Antoro bernilai 75. Tugas yang harus dikerjakan anak ialah menulis sesuai dengan contoh tulisan guru sebagaimana ada pada lembaran yang dibagikan kepada setiap siswa. Tugas individual itu diberikan guru setelah ia menerangkan secara klasikal tentang cara menulis tegak dan tegak bersambung seraya anak-anak membaca tulisan itu. Sebelum anak-anak mengerjakan tugas individual, segera setelah guru menerangkan secara klasikal dipanggillah secara bergantian tiga anak untuk menulis di papan tulis. Guru mengajak murid yang duduk di kursi masing-masing memerhatikan apakah temannya yang maju menulis di papan tulis menulis dengan benar. Baru setelah itu guru membagikan kertas yang telah ada contoh tulisan (empat baris) kepada semua anak, lalu semua anak mengerjakan tugas tersebut.

Contoh ini menegaskan suatu proses/penahapan yang jelas. Kalau saja setiap guru mampu mengajarkan seperti itu, dapat dipastikan siswa akan menghasilkan tulisan tegak dan tegak bersambung yang kian baik, rapi, dan terbaca; dan besarlah harapan kita akan terjadinya perbaikan mutu tulisan tangan anak-anak kita. Perbaikan mutu pendidikan dan segala upaya perbaikan mutu senantiasa berawal dari tulisan. Tulisan tidak baik berarti tulisan yang tidak dapat dibaca, dan tulisan yang tidak terbaca pasti sulit sekali dipahami, dan tulisan yang sulit dipahami memberikan gambaran betapa rendah mutu pembelajaran. Begitu seterusnya.

Forster & Masters menjelaskan sekurangnya ada lima topik utama yang harus didalami ketika berbicara tentang portofolio, yakni pertama, yang namanya portofolio itu banyak dan berbeda-beda sesuai dengan tujuannya yang berbeda-beda. Kedua, ada yang disebut "portofolio setengah jalan/jadi", ada juga portofolio jadi-penuh; dan ketiga, portofolio terdokumentasi. Selanjutnya, keempat, portofolio yang siap dipertunjukkan/dilaporkan, sedangkan yang kelima, bagaimana melakukan persiapan dan mencermati portofolio. Topik kelima ini sangatlah penting untuk diuraikan panjang lebar, terutama untuk mendorong para guru di bangku SD/MI dapat melaksanakannya tanpa kesulitan berarti. Persiapan terbaik tentulah guru mempunyai BA, selanjutnya mempersiapkan semacam map untuk masing-masing muridnya dalam rangka mempermudahnya to collect and record evidence of student achievement. Setiap penugasan oleh guru perlu disertai dengan hasil individual murid. Selanjutnya, hasil kumpulan artifacts itu dapat dimanfaatkan untuk mencermati perkembangan murid seraya mengacu kepada pertanyaan-pertanyaan pokok ini: Untuk tujuan apa portofolio dilakukan?: (a) Apakah untuk mengetahui proses ataukah hasilnya?; (b) Cocokkah dengan tujuan kurikulum atau target yang akan dicapai?; dan (c) Apa saja yang akan dilaporkan dalam setiap tahapan penilaian portofolio?

Akselerasi Kurikulum 2004

Sangat bisa dipahami kalau akselerasi implementasi Kurikulum 2004 membawa serta kesulitan guru melakukan penilaian model portofolio. Karena itu, perlu diperhatikan penegasan Forster & Masters tentang lima tangga merancang portofolio, yakni (a) tujuan melakukan penilaian portofolio harus dirumuskan jelas, (b) rumuskan isinya secara spesifik tetapi singkat, (c) rumuskan cara melakukan seleksi artifacts, (d) rumuskan hal-hal yang akan lebih dicermati dan kriterianya, dan (e) tegaskan sejak awal metode estimasi dan format pelaporannya. Dalam setiap tangga rancangan, diberikan ancar-ancar strateginya; misalnya pada tangga perumusan tujuan portofolio, strategi yang ditawarkan antara lain tujuan dirumuskan secara rinci, rumuskan juga instruksi-instruksi kuncinya dan kaitkan tujuan penilaian portofolio dengan apa yang akan dicapai dalam kurikulum maupun pemetaan prosesnya.

Pengalaman melaksanakan MBS yang di banyak sekolah rintisan juga telah melaksanakannya, penilaian portofolio bukanlah sesuatu yang sulit, dan kalau penilaian ini akan dilaksanakan di sekolah, secara langsung sekolah dapat mengajak peran serta orangtua. Mekanisme seperti ini sangat cocok dengan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi sebab melalui proses yang dilalui secara cermat dan bersama-sama oleh murid, guru, dan orangtua, kompetensi masing-masing pihak semakin jelas. Tegasnya, penilaian portofolio berkaitan erat dengan perlu ditingkatkannya peran serta orangtua/masyarakat secara akademis, bukan sekadar peran serta non-akademis; dan bila keseluruhan proses dan mekanismenya ditempuh dengan baik, niscaya kualitas pendidikan akan semakin membaik.

JC Tukiman Taruna Doktor di Bidang Community Development; Provincial Project Officer Manajemen Berbasis Sekolah untuk Provinsi Jawa Tengah; Tinggal di Ungaran

sumber :

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0407/19/opini/1151172.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar