Senin, 25 Mei 2009

JENIS -JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Jenis anak berkebutuhan khusus...

A tunanetra
B tunarungu
C tunagrahita
D tunadaksa
E tunalaras
F tunawicara
G tunaganda
H HIV/aids
I gifted
J talented
K kesulitan belajar
L lambat belajar
M autis
N narkoba
O Indigo

...Tentang Mereka...

Anda mungkin menyebut mereka dengan sebutan 'anak cacat', tapi sesungguhnya mereka adalah anak 'Luar Biasa'. Luar biasa dalam menghadapi kekurangan yang mereka punya, dan luar biasa dalam menggali kelebihan yang ada dalam diri mereka. dan kini mereka disebut ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS.
Anak berkebutuhan khusus bukan semata-mata anak cacat, bodoh, dan memiliki banyak kekurangan lainnya. Ada di antara jenis anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelebihan jauh dibanding anak biasa yang lain dan karena kelebihan mereka itulah mereka tergolong anak berkebutuhan khusus agar kelebihan mereka dapat tersalur dengan baik dan dapat menyeimbangkan kelebihan mereka dengan aspek-aspek kehidupan lainnya.
Anak berkebutuhan khusus juga butuh pendidikan, untuk itu ada sebuah sekolah khusus yang disebut Sekolah Luar Biasa (SLB). Hanya saja di Indonesia sendiri keberadaan SLB masih belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari masih belum lengkapnya SLB untuk semua jenis anak berkebutuhan khusus.
Selain SLB, di Indonesia sedang dirintis sekolah INKLUSI, yaitu sekolah biasa yang dapat juga menangani anak berkebutuhan khusus. Sekolah inklusi ini masih dikembangkan sampai sekarang.

...Jenis Anak Berkebutuhan Khusus...
Ada 15 jenis anak berkebutuhan khusus yang biasa dinamai dengan huruf mulai dari A - O. Berikut ini merupakan susunan penamaan anak berkebutuhan khusus yang terbaru:

A = TUNANETRA
Tunanetra merupakan gangguan dalam kemampuan penglihatan.
Tunanetra bisa diakibatkan bawaan sejak lahir atau juga kecelakaan.
Dalam membantu membaca, tunanetra menggunakan huruf khusus yang disebut huruf braille. Hanya saja keberadaan buku braille ini masih terbatas. Tapi sudah ada percetakan-percetakan yang menertbitkan bukunya dalam dua jenis huruf tersebut. Bahkan sudah ada Al-Quran braille untuk tunanetra yang beragama Islam.

B = TUNARUNGU
Tunarungu merupakan masalah dalam kemampuan mendengar.
Tunarungu dapat disebabkan bawaan sejak lahir atau gangguan pendengaran.
Biasanya tunrungu menjadi tunaganda karena biasanya tunarungu diikuti dengan tunawicara. hal ini disebabkan adanya gangguan pendengaran sejak lahir membuat anak tidak biasa berlatih berbicara karena anak belajar berbicara dari apa yang mereka dengar. Tunarungu dapat dibantu dengan alat bantu dengar.
Tunarungu biasa menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi. biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka.
Pada kenyataannya belum ada bahasa isyarat internasional yang sukses diterapkan. Bahasa isyarat unik dalam jenisnya di setiap negara. Bahasa isyarat bisa saja berbeda di negara-negara yang berbahasa sama.
Untuk Indonesia, sistem yang sekarang umum digunakan adalah Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang sama dengan bahasa isyarat America (ASL - American Sign Language)

C = TUNAGRAHITA
keterbelakangan mental.
Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata normal. Bersamaan dengan itu pula, tunagrahita mengalami kekurangan dalam tingkah laku dan penyesuaian. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Dengan demikian, seorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga faktor, yaitu:
(1) keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata,
(2) ketidakmampuan dalam perilaku adaptif,
(3) terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun.
Keterbelakangan mental yang biasa dikenal dengan anak tunagrahita biasanya dihubungkan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan secara umum biasanya diukur melalui tes Inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient).
1. Tuna grahita ringan biasanya memiliki IQ 70 –55
2. Tunagrahita sedang biasanya memiliki IQ 55 – 40
3. Tunagrahita berat biasanya memiliki IQ 40 – 25
4. Tunagrahita berat sekali biasanya memiliki IQ <25
Para ahli indonesia menggunakan klasifikasi:
Tunagrahita ringan IQnya 50 – 70,
Tunagrahita Sedang IQnya 30 – 50,
Tunagrahita berat dan sangat berat IQnya kurang dari 30.

D = TUNADAKSA
Pengertian Anak Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya.
1. Dari segi fungsi fisik,
tunandaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatannya mengalami masalah sehingga menghasilkan kelainan didalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan untuk meningkatkan fungsinya diperlukan program dan layanan khusus.
2. Pengertian yang didasarkan pada anatomi
biasanya digunakan dalam kedokteran. Daerah mana ia mengalami kelainan.

E = TUNALARAS
Anak tunalaras, yang dimaksud disini adalah anak yang mengalami hambatan/kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial, bertingkah laku menyimpang dari norma-norma yang berlaku dan dalam kehidupan sehari-hari sering disebut anak nakal sehingga dapat meresahkan/ mengganggu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Anak nakal yang dimaksud di sini adalah anak yang sangat berlebihan kenakalannya. Misalnya saja anak kecil yang sudah mencuri bahkan membunuh.
PENGGOLONGAN ANAK TUNALARAS....
Penggolongan anak tunalaras dapat ditinjau dari segi gangguan atau hambatan dan kualifikasi berat ringannya kenakalan, dengan penjelasan:
1. Menurut jenis gangguan atau hambatan
a. Gangguan Emosi
Anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi terwujud dalam tiga jenis perbuatan, yaitu: senang-sedih, lambat cepat marah, dan releks-tertekan.
Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atau marah, rasa tertekandan merasa cemas.
b. Gangguan Sosial
Anak ini mengalami gangguan atau merasa kurang senang menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup bergaul. Gejala-gejala perbuatan itu adalah seperti sikap bermusuhan, agresip, bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang menghina orang lain, berkelahi, merusak milik orang lain dan sebagainya. Perbuatan mereka terutama sangat mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan orang lain.
2. Klasifikasi berat-ringannya kenakalan
Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan berat ringan kriteria itu adalah:
a. Besar kecilnya gangguan emosi, artinya semikin tinggi memiliki perasaan negative terhadap orang lain. Makin dalam rasa negative semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut.
b. Frekwensi tindakan, artinya frekwensi tindakan semakin sering dan tidak menunjukkan penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat kenakalannya.
c. Berat ringannya pelanggaran/kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari sanksi hukum.
d. Tempat/situasi kenalakan yang dilakukan artinya Anak berani berbuat kenakalan di masyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila di rumah.
e. Mudah sukarnya dipengaruhi untk bertingkah laku baik. Para pendidikan atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak “bandel” dan “keras kepala” sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
f. Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami. Apabila seorang anak tunalaras juga mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaannya.
Maka kriteria ini dapat menjadi pedoman pelaksanaan penetapan berat-ringan kenakalan untuk dipisah dalam pendidikannya.

F = TUNAWICARA
Tunawicara merupakan gangguan verbal pada seseorang sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi melalui melalui suara.
Tunawicara sering dikaitkan dengan tunarungu.

G = TUNAGANDA
yang mengalami kecacatan lebih dari 1 jenis.
KLASIFIKASI...
Dari sekian banyak kemungkinan kombinasi kelainan, ada beberapa kombinasi yang paling sering muncul dibandingkan kombinasi kelainan-kelainan yang lainnya, yaitu:
1. Kelainan Utama Adalah Tunagrahita
a. Tunagrahita dan cerbral palsy
Ada suatu kecenderungan untuk mengasumsikan bahwa anak-anak cerbral palsy (CP) adalah anak-anak tunagrahita. Apapun penyebabnya, baik karena genetik atau faktor lingkungan sehingga terjadi adanya kerusakan pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan rusaknya cerbral cortex sehingga menimbulkan tunagrahita. Namun demikian, hubungan tersebut tidak berlaku secara umum. Sebagai contoh, hasil-hasil penelitian yang dilakukan Holdman dan Freedheim terhadap seribu kasus klinik mediknya, hanya dijumpai 59% dari anak-anak CP yang dites adalah anak-anak tunagrahita (Kirk dan Gallagher, 1988). Melakukan diagnosis untuk menentukan apakah seorang anak adalah tunagrahita diantara anak-anak CP dengan tes inteligensi yang baku adalah sangat sulit untuk dipercaya.
b. Kombinasi Tunagrahita dan Tunarungu
Anak-anak tunarungu mengalami berbagai masalah dalam perkembangan bahasa dan komunikasi. Sementara itu, anak-anak tunagrahita akan mengalami kelambanan dan keterlambatan dalam belajar. Pada anak tunaganda, bisa saja terjadi anak tersebut mengalami tunagrahita yang sekaligus tunarungu. Anak-anak yang demikian, mengalami gangguan pendengaran, memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata dan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.
c.Kombinasi Tunagrahita dan Masalah-masalah Perilaku
Telah diketahui bahwa terdapat hubungan antara tunagrahita dengan gangguan emosional. Anak-anak yang mengalami tunagrahita berat ada kemungkinan besar juga memiliki gangguan emosional. Yang tidak diketahui adalah banyaknya anak secara pasti yang menampakkan kedua kelainan tersebut bersama-sama. Ada gejala-gejala bahwa tunagrahita yang cukup kuat dan nyata yang menyertai atau bersama-sama dengan gangguan emosional cenderung untuk diabaikan atau dikesampingkan.
2. Kelainan Utama Adalah Gangguan Perilaku
a. Autisme
Anak yang mengalami autisme sulit melakukan kontak mata dengan orang lain sehingga memberikan kesan tidak peduli terhadap orang di sekitarnya. Kelainan utama pada anak autistik adalah dalam hal komunikasi verbal. Apabila kegiatannya mengalami hambatan atau perubahan, maka mereka akan berperilaku aneh serta berteriak-teriak, berjalan mondar-mandir sambil menendang atau membenturkan kepalanya ke tembok. Kondisi ini juga sering terjadi apabila anak dalam keadaan tegang, senang atau berada di tempat yang asing.
b. Kombinasi Gangguan Perilaku dan Pendengaran
Memperkirakan secara pasti tentang berapa jumlah anak yang mempunyai gangguan emosional perilaku dan yang sekaligus gangguan pendengaran adalah hal yang sangat sulit. Hal ini sangat bergantung pada kriteria yang digunakan untuk menentukan seberapa besar gangguan emosional dan tingkat keparahan hilangnya pendengaran. Althshuler memperkirakan bahwa antara satu sampai dengan tiga dari 10 anak tunarungu anak anak yang memiliki masalah emosional.
Para ahli yang konsisten memberikan pelayanan kepada anak-anak yang mempunyai gangguan emosional dan yang sekaligus tuli, cenderung memakai klasifikasi kondisi anak-anak itu sebagai kondisi yang ringan, sedang dan berat.
3. Kelainan Utama Tunarungu dan Tunanetra
Apabila satu dari dua lelainan utama itu yang menyebabkan anak mengalami gangguan, maka dalam memberikan pelayanan pendidikan, indra yang masih baik kondisinya memperoleh perhatian utama untuk difungsikan. Bagi anak yang tuli, maka saluran penglihatan digunakan untuk membentuk sistem komunikasi berdasarkan isyarat, ejaan jari dan membaca bibir. Bagi anak yang mengalami gangguan penglihatan (buta), maka program pendidikan dikompensasikan melalui alat pendengaran.
Anak buta-tuli adalah seorang anak yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, suatu gabungan yang menyebabkan problema komunikasi dan problema perkembangan pendidikan lainnya yang berat sehingga tidak dapat diberikan program pelayanan pendidikan baik di sekolah yang melayani untuk anak-anak tuli maupun di sekolah yang melayani untuk anak-anak buta. Namun demikian, bukan berarti anak buta-tuli harus dirampas haknya untuk mendapatkan layan pendidikan. Dengan penangan yang baik dan tepat, anak-anak buta-tuli masih bisa dididik dan berhasil. Contoh orang semacam ini adalah Helen Keller.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak yang tergolong tunaganda memiliki lebih dari satu ketidakmampuan. Walaupun dengan metode diagnosis yang paling baik sekalipun, masih sering mengalami kesulitan untuk mengidentifikasikan sifat dan beratnya ketunagandaan yang dialami anak dan menentukan bagaimana kombinasi ketidakmampuan itu berpengaruh terhadap perilaku anak.
Anak-anak yang tergolong tunaganda seringkali memiliki kombinasi-kombinasi ketidakmampuan yang tampak nyata maupun yang tidak begitu nyata dan keduanya memerlukan penambahan-penambahan atau penyesuaian-penyesuaian khusus dalam pendidikan mereka. Melalui program pengajaran yang sesuaiakan memungkinkan mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang berguna, bermakna, dan memuaskan pribadinya.

H = HIV/AIDS
HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ T cell dan macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.
akibat dari HIV ini dapat timbul berbagai macam penyakit, karena berkurangnya daya imunitas tubuh.
Akibat dari keterbatasan inilah, orang penderita HIV/aids juga butuh perlakuan khusus agar dapat menerima perlakuan dan pendidikan yang baik dan tetap dapat diterima baik pula di masyarakat.

I = GIFTED
Anak Gifted adalah anak yang tergolong cerdas istimewa.
Kondisi anak gifted tidak hanya mempunyai kecerdasan tinggi, tetapi berbagai keunggulan yang dimilikinya dapat mengakibatkan beragam masalah, seperti gangguan psikosomatis, psikologis, sosial, perilaku agresif, dan sebagainya. Berbagai keunggulan yang dimiliki anak gifted ini meliputi: motivasi internal yang tinggi, kosakata yang dikuasai banyak, mudah menerima dan mengingat informasi yang luas dan mendalam, kreatif, senang menggunakan caranya sendiri, rasa ingin tahu tinggi, mene-kankan kejujuran dan kebenaran, energik, semangat tinggi, rasa humor tinggi, dan mempunyai harapan tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain.
Keunggulan anak gifted tersebut kemungkinan akan menjadi masalah yang sangat berarti apabila tidak dikenali dengan tepat dan memperoleh bimbingan, materi, metode, dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan bermacam keunggulannya tersebut.
Problematika dapat timbul sebagai dampak dari keunggulan yang tidak terakomodasi dalam model pembelajaran yang tepat di rumah dan di sekolah. Problem itu meliputi tidak suka bantuan orang lain ketika sedang belajar/bekerja, kurang minat berkomunikasi de-ngan teman sebayanya, tidak menyenangi latihan dari awal, mengganggu kesibukan temannya yang monoton, suka bertanya yang aneh-aneh, tampak seperti hiperaktif karena tidak ada kesibukan yang sesuai dengan minatnya, mencari perhatian di kelas dengan mengganggu ketenangan belajar temannya, perfeksionis dan tidak toleransi pada diri sendiri dan orang lain sehingga mudah depresi, tidak senang pada sesuatu yang tidak logis, dan cenderung tidak bisa kompromi dan menolak masukan dari orang tua dan sebayanya.
Banyak pula anak gifted mengalami hambatan bicara akibat mengalami keterlambatan dalam perkembangan kemampuan berbahasa ekspresif, yaitu mengalami kesulitan menyampaikan apa yang dipikirkannya melalui komunikasi verbal. Anak-anak gifted ini lebih senang menggunakan bahasa simbolik dan mempunyai kemampuan reseptif yang baik, yaitu kemampuan dalam menerima dan memahami komunikasi nonverbal.
Berbeda dengan anak-anak autis, mereka pada umumnya mengalami hambatan majemuk pada perkembangan komunikasi verbal dan nonverbal, kesulitan berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain, serta adanya perilaku stimulatif dan repetitif.
Pada gifted penggunaan bahasa tidak meniru bahasa orang lain (original), perkembangan bahasa dan bicara cepat, mempunyai rasa bahasa yang tinggi, mampu melihat permasalahan dengan baik, hambatan motorik, perasaan tidak ingin gagal, berpikir ke arah negatif dan berlebihan, dan mampu melihat permasalah inti maupun umum.
Anak yang sangat cerdas pun termasuk dalam jenis anak berkebuthan khusus. hal ini dikarenakan mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata yang menyebabkan mereka pun butuh perlakuan khusus dalam menghadapi kelebihan mereka. Sehingga mereka dipisahkan dari anak biasa agar mereka dapat belajar dengan nyaman dan sesuai dengan kemampuan mereka.

J = TALENTED
Talented adalah anak berkebutuhan khusus yang tergolong anak berbakat istimewa.
Anak talented adalah anak yang memiliki kemapuan yang tinggi dalam bidang tertentu, misalnya hanya dalam bidang matematik, Ilmu pengetahuan alam, bahasa, kepemimpinan, kemampuan psychomotor, penampilan seni.

K = KESULITAN BELAJAR
Kesulitan belajar dapat diakibatkan oleh faktor internal seperti kemalasan dan juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Misalnya saja karena trauma yang diakibatkan oleh pertengkaran orang tua sehingga dapat mengurangi konsentrasi dalam belajar.

L = Lambat Belajar (LEARNING DISABILITY)
Kurangnya kecepatan dalam menanggapi pelajaran.
Sebagaimana diketahui, disability dihubungkan dengan berkurangnya suatu fungsi atau tidak adanya bagian tubuh atau organ tubuh tertentu. Kurangnya fungsi suatu organ untuk belajar disebut learning disability. Learning disability juga diartikan sebagai kelainan dalam satu atau lebih proses psychologis dasar termasuk dalam pengertian dan penggunaan bahasa, bicara, atau menulis yang mana ditunjukkan oleh diri anak dengan tidak baiknya kemampuan untuk mendengar, berfikir, bicara, membaca, menulis, mengeja atau mengerjakan penjumlahan matematik.
Sehingga orang yang mengalami learning disability memerlukan perlakuan khusus dalam penanganan belajar, agar kemampuannya dapat terus bertambah walaupun sukar untuk menyamai anak normal lainnya.

M = AUTIS
Secara sederhana autis dapat diartikan orang yang asyik dengan dunianya sendiri.
Banyak orang beranggapan bahwa anak autis adalah anak yang bodoh. Padahal bukan itulah pengertian dari autis. Anak autis senang dengan dunianya sendiri, bukan berarti mereka tidak cerdas. Anak autis pun terbagi dua menjadi anak yang berIQ di bawah rata-rata dan anak yang berIQ di atas rata-rata. Karena mereka sering asyik dengan dunia mereka sendiri, mereka butuh bimbingan khusus agar mereka dapat bersosialisasi dengan orang lain.
Autisme sendiri merupakan spektrum dengan interval yang panjang, yakni dari yang berat sampai yang ringan sehingga disebut autism spectrum disorder (ASD). Anak-anak ASD adalah mereka yang mengalami keterlambatan bicara, mempunyai rentangan inteligensi dari yang rendah (below average) hingga rata-rata (average). Sedangkan kelompok autisme yang mempunyai inteligensi tinggi disebut autisme asperger.
Pada umumnya, anak autis asperger baru dikenali ketika sudah kelas III atau IV di sekolah dasar, karena anak ini tidak mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan ketika usia balita dikira anak gifted. Namun pada saat anak ini di SD, kesulitan mulai tampak sebagai akibat hambatan komunikasi dan sosial, serta mengalami kesulitan dalam pelajaran yang bersifat akademis yang disebabkan oleh kesulitan berpikir analisis dan pemecahan masalah sebagai dampak dari ketidakmampuan dalam kemampuan kreativitas, fantasi, dan imajinasi.
Jika kita amati dalam kegiatan di sekolah, terlihat jelas perbedaan antara sindrom asperger dan gifted. Pada sindrom asperger dalam penggunaan bahasa selalu sama berulang-ulang, monoton dengan intonasi khas, kesulitan dalam penggunaan bahasa kiasan dan simbolik, sering berbicara tentang hal yang tidak penting, tidak mampu merasakan perasaan orang lain, hanya tertarik pada bidang yang disukainya, kurang mampu membangun relasi sosial, kesulitan berkomunikasi nonverbal, tidak mampu melakukan kontak dan relasi sosial, kesulitan membaca mimik dan bahasa tubuh, mampu berbicara tetapi tidak komunikatif, dan ada gerakan stereotip dengan sikap tubuh yang aneh.
Persamaan antara gifted dan sindrom asperger,yaitu: mereka cenderung berpikir egosentris, hambatan motorik, mampu dalam persoalan tertentu, penggunaan bahasa yang cepat, kemampuan pemaknaan bahasa yang tinggi, kuat dalam verbal, pengetahuan luas, daya ingat tajam, kemampuan berkomunikasi lemah, mampu memecahkan masalah tertentu, dan tidak jarang mengalami depresi

N = ANAK KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari 'Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif'.
Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya.
Istilah narkotika berasal dari bahasa Yunani narkotikos, yang berarti "menggigil". Ditemukan pertama kali berasal dari substansi-substansi yang dapat membantu orang untuk tidur.
Efek narkoba itu sangat banyak sekali. Beberapa diantaranya adalah,
Orang yang menggunakan narkoba dapat kecanduan atau ketagihan. Orang tersebut akan berusaha bagaimana caranya agar dapat memperoleh narkoba kembali, meskipun melalui cara-cara kriminal. Mata orang tersebut akan merah. Bibir mereka menjadi kecoklatan, bahkan daya tahan tubuh mereka akan turun. Ketika daya tahan tubuh mereka turun, mereka mudah sekali terserang penyakit. Tubuh mereka akan menjadi kurus kering, dan kurang semangat.
Tanda-tanda dini anak yang telah menggunakan narkotika dapat dilihat dari beberapa hal antara lain :
• 1. anak menjadi pemurung dan penyendiri
• 2. wajah anak pucat dan kuyu
• 3. terdapat bau aneh yang tidak biasa di kamar anak
• 4. matanya berair dan tangannya gemetar
• 5. nafasnya tersengal dan susah tidur
• 6. badannya lesu dan selalu gelisah
• 7. anak menjadi mudah tersinggung, marah, suka menantang orang tua
• 8. suka membolos sekolah dengan alasan tidak jelas
Bahaya...
Diluar bahaya yang ditimbulkan karena kecerobohan atau penggunaan berlebihan, narkotika juga dapat menimbulkan bahaya infeksi, tertular penyakit dan overdosis. Komplikasi ditimbulkan karena pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Hepatitis dan AIDS adalah penyakit yang umum ditularkan melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril sesama pengguna narkotika.
Karena akibatnya yang dapat mempengaruhi fisik dan mental anak korban penyalahgunaan narkoba, maka inilah yang menyebabkan anak tersebut harus mendapat perlakuan yang khusus pula.

O = INDIGO
Orang yang memiliki kelebihan di bidang spiritual.
Misalnya saja orang yang sudah bisa meramal sejak anak-anak, anak yang dapat bertelepati, anak yang dapat membaca pikiran orang lain, dll.
Istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Istilah “anak indigo” atau indigo children juga merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe


Sistem penamaan ini adalah sistem penamaan yang terbaru dan belum digunakan sepenuhnya dalam penamaan sehari-hari.

SUMBER :
http://ayopeduli.110mb.com/abouthem.htm#b

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar