Selasa, 17 Maret 2009

Mutu Pendidikan Ditentukan Mutu Pelajaran, Siswa, Pengajar

Makassar (ANTARA News) - Mutu pendidikan di Kota Makassar Sulsel yang anjlok pada tahun ajaran 2007/2008 dengan tingkat kelulusan hanya sekitar 30 persen disebabkan karena lebih mengejar pembangunan fisik dari pada kualitas pendidikan yang sesungguhnya.

"Sebenarnya banyak program unggulan yang dibuat dan dicanangkan oleh Pemkot Makassar, namun implementasinya tidak sampai pada dasar melainkan hanya dipermukaan saja," kata Syamsu Niang, Ketua Forum Komunikasi Pengkajian Aspirasi Guru Indonesia (FK PAGI) Sulsel di Makassar, Sabtu.

Program unggulan itu, seperti pembebasan biaya pendidikan siswa SD dan SMP, rehabilitasi gedung sekolah dan sebagainya. Namun itu semua tidak cukup, karena untuk meningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya terbebas dari biaya sekolah, tetapi harus mendapatkan mutu pelajaran yang baik dari tenaga pengajar yang berkualitas, ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, tingkat kedisiplinan dan ketekunan siswa di kota ini juga harus dievaluasi. Pasalnya, dari informasi yang berkembang di lapangan diketahui, dari 5.639 siswa SMP dan sederajat (30,10 persen) yang tidak lulus dari jumlah peserta UN 18.734 orang, ketidaklulusan itu terjadi, karena umumnya siswa SMP ceroboh dalam mengisi lembar jawaban.

"Semestinya, pihak sekolah jangan hanya memberikan "try out" UN sekali atau dua kali sebelum UN diselengggarakan. Karena untuk dapat mengisi lembar jawaban bagi yang teliti mungkin cukup satu kali melakukan try out, tapi yang sembrono butuh latihan beberapa kali," ungkap Syamsu yang juga anggota DPRD Kota Makassar ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Patabai Pabokori mengemukakan, dalam 10 tahun terakhir memang Kota Makassar semakin terbelakang kuantitas kelulusannya dibandingkan daerah lainnya seperti Palopo dan Luwu. Padahal dari segi sarana dan akses informasi siswa di Makassar jauh lebih baik dibanding di daerah.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya mengimbau agar semua pihak terakit dapat mengevaluasi fenomena ini, agar pada tahun ajaran berikutnya kualitas dan kuantitas kelulusan siswa dapat lebih baik dari tahun sebelumnya.

"Meski harus diakui, kalau dari segi kualitas orang per orang, sebenarnya Makassar masih unggul, namun kualitas pendidikan itu kan dinilai secara kolektif atau keseluruhan, bukan orang per orang saja," tandasnya.(*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar