Senin, 16 Maret 2009

Komponen Pengajaran

A. Hakikat Belajar Mengajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Tujuan pengajaran akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keakifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi jugadari segi kejiwaan.

Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru.

Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Hal ini perlu sekali guru sadari agar tidak terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.

Biasanya permasalahan yang guru hadapi ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana adalah serentetan pertanyaan yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan masalah pengelolaan kelas. Masalah pengelolaan kelas ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan guru.

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi, lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. (Nana Sudjana, 1991:29).

B. Ciri-ciri Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:

1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.

2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3. Kegiatan beljar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.

4. Ditandai dengan aktivitas anak didik.

5. Dalam kegiatan beljar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.

6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin.

7. Ada batas waktu.

8. Evaluasi.

C. Komponen-komponen Belajar Mengajar

kegiatan belajar mngajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi Tujuan,Bahan pelajaran, Kegiatan belajar mengajar ,Metode, Alat dan sumber , Serta Evaluasi.

  1. Tujuan

Adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu sita-cita yang normatif. Dengan perkataan lain,dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya,baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen lainnya seperti bahan pelajaran ,kegiatan belajar mengajar,pemilihan metode,alat, sumber,dan alat evaluasi.Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin.

  1. Bahan pelajaran

Bahan adalah salah satu sumber belajar bagi anak didik.Bahan yang disebut sebagai sumber belajar(pengajaran)ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran.

Menurut Dr.Suharsini Arikunto (1990) Bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada didalam kegiatan belajar mengajar,karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai anak didik. Karena itu,guru khususnya atau pengembang kurikulum umumnya,tidak boleh lupa harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabus berkaitan dengan kebutuhan anak didik pada usia tertentu dan dalam lingkungan tertentu pula. Minat anak akan bangkit bila suatu bahan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan anak didik (Maslow).

  1. Kegiatan Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti kegiatan dalam pendidikan. Guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif,bukan guru.Guru hanya sebagai mediator dan fasilitator pendekatan pengajaran ini disebut pendekatan CBSA(Cara Belajar Siswa Aktif). Interaksi dikatakan maksimal bila interaksi itu terjadi antara guru dengan murid,murid dengan guru,dan antara murid dengan murid dalam rangka bersama-sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Dalam kegiatan belajar mengajar,ada 3 aspek yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yaitu : aspek biologis,aspek intelektual,psikologis. Pemahaman terhadap ke tiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan antara guru dengan anak didik,sehingga memudahkan melakukan pendekatan mastery learning .

Mastery learning adalah salah satu upaya strategi belajar mengajar pendekatan individual (Dr.Muhammad Ali,1992:94) . Mastery learning meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan (Dr.Suharsini Arikunto,1988:31). Dalam menghadapi kegiatan belajar mengajar,guru akan menemui bahwa anak didiknya sebagian ada yang dapat munguasai bahan pelajaran secara tuntas dan ada pula anak didik yang kurang menguasai bahan pelajaran secara tuntas(Mastery).

  1. Metode

adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Dalam kegiatan belajar mengajar,guru tidak harus terpaku pada satu metode,tetapi guru menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan,tetapi menarik perhatian anak didik. Penggunaan metode bervariasi juga harus memperhatikan situasi yang mendukung dan kondisi psikologis anak didik.

Beberapa metode pembelajaran untuk memperkaya pengetahauan para guru dalam memberikan materi kepada peserta didik nantinya. Banyak metode mengajar yang telah disampaikan oleh pakar, diantaraya yaitu

(1) The Power of Two yaitu guru melemparkan masalahnya; masing-masing siswa berupaya mencari jawaban sendiri-sendiri; bertukar pikiran dengan teman sebelah; diambil jawaban yang mendekati kebenaran; siswa mempresentasekan jawaban; lalu dipilih jawaban yang paling benar.

(2) Every one is a techer here yaitu guru memberikan bahan bacaan, siswa membaca sebentar; masing-masing siswa membuat pertanyaan dalam sebuah kartu; kartu diambil dan dibagikan secara acak kepada siswa; masing-masing membaca pertanyaan dan jawabannya secara bergantian; lalu siswa lain diberi kesempatan memberikan tanggapan. (3) Critical Incident yaitu siswa mengingat dan mendiskripskan pengalaman masa lalu yang menarik dan berkaitan dengan pokok bahasan; siswa lain mengulas dan memberikan solusi (deskripsi tidak harus dengan lisan, bisa juga dengan tertulis).

(4) Snowballing yaitu guru melempakan masalah; masing-masing siswa berfikir; diskusi dengan teman sebelah; diskusi dengan teman sebangku lain; dibagi menjadi dua kelompok besar; masing-masing kelompok presentase.

(5) Card Sort yaitu motivasi dari guru; bagi kartu kosong secara acak; guru mencari kata kunci di papan; siswa mencari kata sejenis (satu tema) dengan temannya; diskusi kelompok berdasarkan temanya; menyusun kartu di papan dan masing-masing kelompok mempresentasekan hasilnya.

(6) Information Search yaitu guru menentukan topik, membagikan teks (materi Pelajaran); siswa membaca secara berkelompok; guru memberikan pertanyaan untuk dijawab siswa; kelompok siswa membuat jawaban; presentase.

(7) Learning Start with Question yaitu guru membagikan teks yang relatif baru (asing); siswa membaca secara kelompok (minimal 2 org); mengutarakan isi bacaan sesuai yang dipahami; siswa yang lebih memahami materi memberi jawaban dan tanggapan.

(8) Team Quiz yaitu guru membentuk tiga kelompok; tugas secara bergantian untuk membuat soal, jawaban dan penilaian; buat skor; masing-masing jawaban tiga kelompok (cocok untuk pendalaman pada pertemuan akhir untuk evaluasi).
(9) Debat Aktif yaitu guru membentuk dua kelompok; mengemukakan permasalahan yang kontroversial; siswa mempersiapkan argumentasi; berdebat saling membuat pertanyaan dan tanggapan.

(10) Brainstorming yaitu menentukan topik; siswa mencurahkan pendapat, ide, dan gagasannya; guru menulis dan menginventarisasi; pendapat yang ada di seleksi dan diambil yang benar.

(11) Elitasi yaitu menentukan topik; siswa mencurahkan pendapat; ide, gagasannya; guru menyeleksi dan menulis di papan tulis.

(12) Mind Mapping : Guru membagikan bacaan sesuai pokok bahasan; siswa mencari kata-kata kunci; siswa membuat skema (peta konsep); presentase, menjelaskan hubungan antarkonsep yang ada.

(13) Role Playing yaitu guru mengangkat berita aktual yang terkait dengan pokok bahasan; menunjuk dua orang untuk memerankan karakter tokoh yang berbeda; keduanya berdialog; peserta lainnya mengamati; guru meminta pemeran untuk menceritakan perasaannya; guru meminta komentar siswa lainnya (M. Nurdin, 2004: 104-110 dalam Suparlan, 2006,,hlm 47-49).

  1. Alat

Adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan. Alat di bagi menjadi dua macam yaitu :alat dan alat bantu pengajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan,perintah,larangan dan sebagainya. Sedangkan dengan alat bantu pengajaran adalah berupa globe,papan tulis,batu kapur,gambar,diagram,slide,video,dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan pengajaran menjadi alat material dan nonmaterial.

Sebagai alat bantu dalam pendidikan dan pengajaran,alat material(audiovisual)mempunyai sifat sebagai berikut :

a. Kemampuan untuk meningkatkan persepsi

b. Kemampuan untuk meningkatkan pengertian

c. Kemampuan untuk meningkatkan transfer belajar

d. Kemampuan untuk memberikan penguatan atau pengetahuan hasil yang dicapai

e. Kemampuan untuk meningkatkan retensi(ingatan)

6. Sumber pelajaran

Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebgai sesuatu yang dapat diprgunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.Menurut Drs. Udin Saripuddin Winatapura,MA dan Drs. Rustana Ardiwinata,1991. Dengan demikian Sumber belajar itu merupakan bahan /materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi pelajar. Ada lima macam sumber belajar :

- Manusia,

- Buku/perpustakaan,

- Media Masa (surat kabar,radio,tv,majalah)

- Alam lingkunganal : Alam lingkungan terbuka,

Alam lingkungan sejarah atau peninggalan sejarah ,

Alam lingkungan manusia

-media pendidikan

7. Evaluasi

Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris,yaitu evaluation.Dalam buku Essential of Education karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown mengatakan bahwa evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat diatas menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana (1993:1)Evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.

Berbeda dengan pendapat tersebut,Ny.Drs.Roestiyah N.K.(1989:85)mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya,sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

Tujuan evaluasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Tujuan umum dari evaluasi adalah

1. Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan

2. Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat

3. Menilai metode mengajar yang dipergunakan

b. Tujuan khusus dari evaluasi adalah

1. Merangsang kegiatan siswa

2. menumbuhkan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan

3. Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan,perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan

4. Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan

5. .Untuk memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode mengajar

Evaluasi dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa maka evaluasi mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. Untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar ,serta mengadakan perbaikan program bagi murid

b. Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid. Antara lain: pemberian laporan kepada orang tua,penentuan naik kelas,serta penentuan lulus tidaknya seseorang murid

c. Untuk menentukan murid di dalam situasi belajar mengajar yang tepat,sesuai dengan tingkat kemampuan (karakteristik lainnya)yang dimiliki oleh murid.

d. Untuk mengenal latarbelakang( psikologis,fisi,dan lingkungan)murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar,nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan-kesulitan belajar yang timbul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar