Senin, 20 April 2009

Cara Menghadapi Anak Marah


10/13/2005

Oleh: Dra. Dyah Puspita


Banyak dari kita menghadapi anak yang marah, bahkan kadang sampai mengamuk.

Dulu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga saya SERING sekali melakukan kesalahan yang hingga kini masih saya sesali. Sesudah membuka sekolah dengan anak-anak yang beragam keadaannya dan latar belakang pengasuhan yang beragam pula, kami semua sampai pada
beberapa teknik/tip/triks yang ternyata bermanfaat.

1. pada saat anak marah, jangan beri komentar apapun. Pasang
tampang "adiguna sutowo" (he..he..), maksudnya = lempeng aja. Tidak
menunjukkan emosi apapun. Kayak kalo lagi main poker, atau main kartu
dan ga' boleh ada yang tahu kita pegang kartu apapun gitu..

2. bila mungkin, sediakan ruangan yang 'aman' bagi anak untuk
melampiaskan amarahnya. Di sekolah, kami ada ruangan di sebelah dapur
(originally = gudang) yang terang, tidak ada perabotan apapun selain
kursi beanbag (kursi dari kulit yang isinya busa).
Di rumah sih, saya ga' punya ruangan khusus, tapi saya pakai ruang
tidur anak saya aja.

3. Bila anak didiamkan sekitar 5-10 menit makin meraung-raung,
memukuli kepala, atau malahan berusaha menyerang, biasanya kami arahkan
untuk "pergi ke ruang tenang". Kalau di textbook namanya 'safe area'
atau 'safe room'. Atau kalau di rumah, saya perintahkan anak saya
begini "Ikhsan mau marah? Pergi ke kamar. Kalau sudah selesai marah,
baru boleh keluar".

4. Nha, marah-marah lah mereka disitu sendirian. Bener-bener
sendirian dan ga' ada bujukan / amarah / rayuan/ atau whatever lah.
Pokoknya ga' dapat kepuasan sama sekali.

5. Kalau sudah reda, baru kita datangi dan kami tanya "sudah
marahnya? Ayo keluar". Dan di luar ruangan baru kita tanya 'ada apa',
'marah sama siapa' dsb. Gaya kita bertanya benar-benar lemah lembut
seolah "badai katrina" yang tadi itu tidak pernah terjadi. Susah sekali
lho.soalnya kita 'kan manusia biasa yang bisa anytime terbawa emosi...

Alhamdulillah, cara seperti ini efektif sekali.
Bahkan anak yang paling "menyeramkan" saat marah-pun, bisa dengan relatif mudah diingatkan untuk masuk ruang tenang dan tinggal disitu sampai ia merasa lebih tenang. Kadang-kadang belum disuruh udah pada masuk sendiri ke ruang tenang. Malahan sesekali tabrakan di dalam! Lha wong yang tadi ngamuk belum selesai udah ada lagi yang mau masuk! (he..he..).

Kadang juga tidak mudah sih. Seperti ada anak yang tinggi besar marah-marah sambil memukuli kepala sendiri atau berusaha menjedutkan kepala ke lantai dan sebagainya. Atau ada juga yang menyerang kita, menarik jilbab guru-guru, sampai harus dipegangi 4 orang dewasa untuk memisahkan dia. Tapi bagaimana lagi.

Kunci dari segala-galanya adalah "ignore the bad behavior" dan "give positive attitude toward the positive behavior". Jangan lupa untuk selalu memberi perhatian (mengajak bicara, mengomentari, bercanda) justru pada saat anak sedang 'tidak melakukan apapun'.
Jadi, dia tahu dia dapat perhatian dari kita justru kalau lagi 'manis'..

Cara ini selain saya terapkan pada Ikhsan, juga saya terapkan pada anak-anak di sekolah. Saya jadi seperti kaleng rombeng dan kaset rusak. Anak lagi bengong, baru dateng, atau sedang enak-enak makan, pasti saya datangi dan tegur dengan ucapan-ucapan sederhana seperti 'selamat
pagi..' (nada bicaranya seperti iklan ya. selamat pagi, donnaaaaa..), 'halo, bajunya bagus ya.', 'hey, sepatu baru nih?', 'halo, makan apa kok enak betul?'..
Saya setiap baru pulang kerja, biarpun tengah malam atau baru datang dari luar kota sekalipun, pasti mengharuskan diri sendiri untuk menyapa ikhsan dengan "riang gembira" (padahal badan dan pikiran udah nyaris rontoookkkkkk, bo!!).



sumber:

http://puterakembara.org/archives3/00000031.shtml

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar